Perkembangan desain modern di
Indonesia, khususnya DKV, banyak dipengaruhi oleh pelopor sekolah desain modern
di Weimar, Jerman, yakni Bauhaus yang menggabungkan berbagai bidang seni murni,
desain dan arsitektur.
Istilah desain komunikasi visual yang baru populer
belakangan ini, sebenarnya baru dikenal di Indonesia pada awal tahun 1980-an.
Dimunculkan oleh Gert Dumbar (seorang desainer grafis Belanda) pada tahun 1977,
karena menurutnya desain grafis tidak hanya mengurusi cetak-mencetak saja.
Namun juga mengurusi moving image, audio visual, display dan pameran. Sehingga
istilah desain grafis tidaklah cukup menampung perkembangan yang kian luas.
Maka dimunculkan istilah desain komunikasi visual seperti yang kita kenal
sekarang ini.
Diawali tahun 1947, di Bandung berdiri sekolah guru gambar yang
menjadi bagian dari Fakultas Teknik UI Jakarta. Menyusul tahun 1957, “seni
interior” masuk di ITB. Sedangkan perkembangan DKV di Indonesia sendiri,
merupakan bagian yang terkait erat dengan strategi pembangunan Orde Baru.
Masuknya investor asing secara signifikan sesudah tahun 1966 – 1967 menyebabkan
dunia desain grafis dan periklanan tumbuh pesat.
Menyikapi hal ini, pada tahun 1968 – 1969, ITB mulai
memikirkan perlunya pendidikan yang dapat mengantisipasi kondisi tersebut.
Maka, pendidikan desain grafis pun mulai dikembangkan, karena tidak
memungkinkan lagi ditempatkan di bawah Studio Seni Grafis (Jurusan Seni Rupa).
Akhirnya, tahun 1973, Seni Rupa ITB membuka jurusan Desain Grafis pertama di
Indonesia. A.D. Pirous adalah tokoh pendiri sekaligus orang pertama yang memimpin
dan mengajar di jurusan ini (nama jurusan kemudian diganti menjadi studio, dan
kini berubah lagi menjadi program studi). Di dalamnya, seni rupa dan desain
sudah mulai dipisahkan. Baru pada tahun 1983 mereka memasukkan kata
‘komunikasi’.
Di tahun yang sama, Desain Grafis ISI Yogyakarta masih
menggunakan nama Jurusan Reklame (sebelum bernama ISI; awalnya ASRI yang sempat
menjadi STSRI ASRI). Sementara di Jakarta, IKJ membuka jurusan DKV pada tahun
1977 yang diprakarsai oleh antara lain alm. S. Prinka dan Priyanto Sunarto.
Awalnya ditujukan untuk program D3, namun dalam perkembangannya menjadi S1.
Istilah DKV dikenal di Indonesia sejak tahun 1980-an dan semakin
terkenal akhir-akhir ini seiring meningkatnya perguruan tinggi yang membuka
jurusan DKV. Nah, asal kalian tahu saja, Jurusan DKV (dulu masih disebut Desain
Grafis) di Indonesia dibuka pertama kali oleh Institut Teknologi Bandung (ITB)
pada tahun 1973 (dan menjadi DKV pada tahun 1979). Meski masih terus
berkembang, kurikulum DKV ITB telah diadopsi oleh banyak perguruan tinggi lain
yang kemudian dikembangkan lagi sesuai dengan visi misi masing-masing perguruan
tinggi. Makanya, jangan heran bagi mahasiswa DKV non-ITB kalau kebanyakan buku
referensinya berasal dari pustaka ITB.
Pada umumnya, jurusan DKV memiliki tiga spesialisasi yang akan
dipilih oleh mahasiswa di tingkat tertentu. Tiga spesialisasi ini adalah desain
grafis, multimedia, dan periklanan. Desain grafis mencakup apa yang dicakup
oleh istilah “desain grafis” di masa lampau dengan media yang lebih mutakhir.
Multimedia mencakup audio visual, animasi, dan antarmuka. Dan periklanan lebih
fokus menggunakan kemampuan desain komunikasi visual untuk periklanan. Tapi
melihat pesatnya perkembangan industri kreatif saat ini, tidak mustahil tiga
spesialisasi ini akan berubah.
Sementara di dunia industri, sulit mengelompokan profesional dari
jurusan DKV menjadiDesainer Komunikasi Visual.
Itu karena dalam dunia industri, lulusan DKV ada yang benar-benar menjadi designer (seperti
desainer grafis dan desainer antarmuka), dan ada yang lebih condong ke
arah artist (seperti
ilustrator dan animator). Beberapa profesi seperti fotografer dan sutradara
malah sering dianggap bukan DKV. Di Indonesia, asosiasi profesi yang sering bertautan
dengan DKV adalah Asosiasi Desain Grafis Indonesia (ADGI). Mungkin inilah salah
satu sebab mengapa masih banyak orang yang mengidentikkan DKV dengan desain
grafis.
Bacaan :

No comments:
Post a Comment